Selamat Bergabung dengan kami

Contact saya di 08122007504

atau slmtsutrisno4@gmail.com

Jumat, 11 Desember 2009

Ny. N. Hudson Bangun dari Kubur


Sosoknya sederhana, namun terlihat elegan, posisi stang tidak terlampau tinggi, jarak antara sadel dan stang sangat pas untuk tinggi badan saya yang hanya 166 Cm.


Standard yang "ajustable" sangat fleksibel untuk parkir di permukaan tanah yang tidak beraturan,tinggal manjangin atau mendekin. Saya nggak tahu merk standard model begini. Bentuk tuas "release"nya yang seperti pelatuk senjata api tinggal di pencet dengan ujung sepatu, standard langsung "memendek".


Posisinya terpaksa agak saya "mundurkan" sedikit, karena posisi sebelumnya yang terlalu maju, suka nyangkut tumit saya ketika sedang mengayuh.




Kunci "victory", sampai sekarang belum ketemu kombinasi untuk "lock" dan 'un-lock" nya.


Dengan sedikit menaikkan posisi sadel (kurang lebih 3 Cm) agar waktu mengayuh kaki bisa lurus, namun ternyata kalau harus tiba-tiba berhenti ujung kaki nggak nyampai ke tanah.


Plat yang membungkus fork ada logo New Hudson. Susah juga ngambil fotonya, sebab kalau di close-up malah yang kelihatan bayangan saya.


Ketengkas, masih rapi, lengkap dengan garis plisirannya yang samar-samar.


Tromol belakang berkarat, susah baca merknya.


Spakbor tebal dan kekar, meskipun begitu ada juga yang retak sepanjang 1 CM.


Boncengan Hopmi, mulus.


Pedal, tidak ada merknya, tapi masih utuh.


Lengan pedal, ada logo New Hudson.


Nomor seri........M 1592


Sadel mengkilat, tapi sudah rapuh, ketika dicoba didudukin untuk test drive sekitar dua jam, ujung depannya langung rontok.


Stelan rem depan.


Dudukan lampu, juga berlogo New Hudson.


Peneng toko penjual.


Pajak kotamadia Bandung tahun 1967.


Logo New Hudson, tangan perkasa membawa kampak.


Lampu stop, seperti bersinar, meskipun siang hari.






Setelah restorasi dengan ganti ban dan mengganti semua pelor atau gotrinya, maka New Hudson yang sudah tidak new itu siap diontel kembali. Inilah tampangnya, dengan mengenakan ban putih, penampilannya memang seperti ningrat yang sudah sepuh.

Minggu, 06 Desember 2009

New Hudson


Sadel, merk special.... mungkin bukan bawaannya..

Toko "SIEN"
Rijwiel-handel
Kapasan 57, Soerabaia.

Kunci kombinasi
VICTORY

Rem depan,
lain dari yang lain.

Standard,
Seperti dongkrak jeep.

Logo New Hudson,
Bertuliskan New Hudson Ltd
St. George's Work
Birmingham.

Lampu stop,
masih cantik.

Lobang-lobang di spakbor,
masih rapi.

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sepeda New Hudson, di bilangan Cicadas Bandung.
Berikut gambar-gambarnya saya share dengan rekan-rekan pecinta sepeda tua. Mudah-mudahan bermanfaat.



Demikian rekan-rekan penggemar sepeda. Mungkin untuk selanjutnya, saya akan sharing gambar utuh setelah proses restorasi selesai.

O ya, ada yang kurang dengan sepeda ini. Lampu dan dinamonya sudah nggak ada. Spakbor yang berlubang, menandakan bahwa sepeda ini juga harus dilengkapi dengan penutup jari-jari.

Ada yang bisa bantu????

Rabu, 02 Desember 2009

Meminang Sepeda Tua

Hobby sepeda tua memang menyenangkan. Namun untuk memperoleh sepeda yang sesuai dengan selera, apalagi berkualitas, ternyata tidak gampang.

Kalau hanya asal sepeda tua, tentu tidak sulit mendapatkannya. Tapi yang berkualitas, tentunya perlu waktu, tenaga dan dana. Namun, lain orang lain pula yang menjadi prioritasnya. Ada seseorang yang lebih menekankan pada faktor kenyamanan, sehingga tidak begitu memperhatikan orisinalitas dari sepeda itu sendiri. Namun kebanyakan pehobby, lebih menekankan pada kelengkapan dan orisinalitas sepeda yang akan dipinangnya. Bahkan ada yang bersemboyan ”biar butut asal orisinil”.

Yang lebih edun lagi, penginnya dapat yang tua, lengkap, orisinal dan kondisi prima.
Berbagai cara ditempuh oleh para penggemar sepeda dalam mewujudkan sepeda impiannya. Ada yang memburu sepeda yang sudah ”siap kontes”, ada yang sedang-sedang saja nanti dibangun pelan-pelan, ada yang mulai mengumpulkan bahan-bahannya, kemudian merakitnya.

Di dunia para hobiis, sudah bukan rahasia lagi, bahwa mereka kebanyakan menjual salah satu atau beberapa koleksinya yang ”dibawah standard”. Mungkin ada yang protes dengan pernyataan saya ini.
Berbekal pengalaman saya di dunia otomotif, ketika saya memutuskan untuk membeli sepeda tua, maka saya buka referensi sebanyak-banyaknya dari internet. Berbagai merk sepeda saya pelajari dengan cermat.
Berbekal referensi dalam dan luar negeri itulah saya mencoba mencari sepeda yang sesuai dengan isi kantong dan selera saya.

Setiap ada informasi selalu saya sempatkan untuk mendatangi langsung ke alamat dan melakukan cek fisik. Memang saya tidak tertarik untuk melakukan pembelian hanya dengan melihat gambar yang ditayangkan di dunia maya dan keterangan para penjualnya. Karena selain cek fisik saya juga selalu mencoba sepeda yang ditawarkan.
Namun karena harapan yang terlalu tinggi itulah saya sampai sekarang belum memperoleh sepeda sesuai selera dan sepadan dengan isi kantong. Lha apa ada, barang bagus kok murah?????

Kenanganku pada Humber

Meskipun lahir di kaki Gunung Ungaran, sebenarnya nenek moyangku berasal dari Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Daerah ini adalah salah satu gudangnya sepeda di Indonesia. Bukan mustahil karena daerahnya memang datar, sehingga merupakan surga bagi para onthelis untuk menggenjot tunggangannya.

Waktu masih SMP, kalau liburan keluargaku sering berlibur ke Delanggu, tepatnya di desa Mendak untuk bersilaturahim dengan kakek dan nenek dan salah seorang kakak perempuanku. Di rumah kakek itulah saya mengenal sepeda tua itu. Sepeda berwarna hijau berpalang tinggi. Karena palangnya yang tinggi itulah, kakek sangat keberatan kalau saya minta ijin untuk menaikinya, Apalagi memang badanku termasuk ukuran mini waktu seumuran anak SMP waktu itu, bukan seperti anak sekarang yang SMP saja sudah ada yang setinggi 170 Cm, bahkan lebih. Hanya kalau kakek tidak sedang sibuk saja, aku diperbolehkan menaikinya di jalan desa dan selalu dalam pengawasannya.
Pernah suatu saat saya terjatuh dan tertimpa sepeda karena kepergok dengan delman disalah satu tikungan dan tidak saya temukan sesuatupun yang agak tinggi untuk mendaratkan salah satu kaki saya.

Kata kakek, itu memang salah satu sepeda yang ukurannya memang jangkung, belakangan saya ketahui dari kakak ipar kalau jenisnya adalah Humber FA.
Karena memang kesayangan kakek, saya mau nggak mau harus mengelapnya sampai kinclong setelah menaikinya. Bahkan lebih lama ngelapnya dibanding pakainya.
Parahnya kakek selalu mengingatkan, agar ngelapnya sampai ke jari-jarinya harus di lap satu persatu.
Kalau parkir di ruang tengah, dekat dengan tempat tidur kakek, dan bannya yang berwarna kekuningan itu harus dialasi dengan karung goni. Kalau tidak dipakai, kakek menggembosi ban sepedanya. Saya pikir mungkin biar awet, ternyata ada alasan yang lebih hebat, yaitu kalau dicuri maling, malingnya harus mompa dulu.

Seingat saya sepeda itu pakai “versnelling” SA, baru sekarang saya tahu, kalau maksudnya Sturmey Archer. Bunyi cik-ciknya sangat jelas. Kunci ban belakangnya yang pakai kombinasi, saya lupa merekya. Saya nggak ingat, ada kunci gondoknya apa tidak. Lampu depan dan dinamonya Bosch. Sepeda ini termasuk berat, lucunya kalau sepeda jaman dulu yang berat justru dianggap bagus. Dan kalau ada sepeda senengnya pada di jentik pakai jari, katanya yang bagus bunyinya “ting…ting” gitu.

Wah jadi pengin punya sepeda Humber nih.